Tags

Pertemuan


Malam itu bulan temaram diatas awan yang beriring pelan, berarak, kemudian awan merekah membentuk kuncup bunga, putih dan membiru! Aku hanya berdiam di ujung jalan di dekat taman Istana Berlian, menunggu dan tetap menunggu, tak peduli berapa lama aku menunggu, uban sudah mulai memutih, pakaianku sudah mulai lusuh, sorot mataku mulai kuyuh karena tidak mengedipkan kelopak mataku entah untuk berapa tahun lamanya, aku masih tetap menunggu.
Siluet cahaya dari bulan kutatap dengan penuh kasih, perlahan membawaku kembali menerawang penantianku yang telah lama kulalui. Entah? Hanya bisa menunggu...
***
“Mas, tunggu aku disini?”, ucapmu sambil memegang tanganku erat-erat, sejenak kemudian memelukku dengan hangat.
“Kau mau kemana?”, tanyaku dengan nada yang bergetar
“Aku hanya pergi sebentar mas aku janji! Engkau jangan pernah beranjak dari tempat ini mas!”
“Engkau pergi bukan untuk waktu yang lama kan?”, tanyaku sembari menarik diriku menjauhi peluk eratnya dan menatap matanya lekat-lekat. Mata ini yang sanggup membuatku jatuh luruh, sayu!!
“Tidak mas, aku janji akan kembali ketempat ini menemuimu.”
Perlahan-lahan tanganmu melepas genggaman tanganku, kau melihat mataku yang memerah menahan air mata, lalu kau berjalan dengan pasti pergi! Ya kau pergi! tidak berapa lama awan hitam yang menggantung mengeluarkan suaranya yang menggelegar, disertai dengan kilatan cahaya. Mungkinkah ini pertanda? langit yang tadinya dipenuhi bintang dan terang benderang mendadak menjadi hitam dengan pamitmu? Ketika aku kalut dengan pikiranku kau mulai menjauh dan bayangan yang mengikutimu mulai menghilang di sudut belokan gang yang berada di sisi utara taman Istana Berlian, sekejap dengan menghilangnya bayangmu air mulai menitik perlahan dan lambat namun pasti tetes itu berubah menjadi beribu-ribu tetes yang menempias wajahku yang terjaga ketika air menyentuh halus bibirku, dingin, sedingin rasa yang tercipta malam ini.
“Kau telah pergi sayang, memang kau telah pergi dan aku yakin kau takkan kembali”, bisikku lirih.
Apakah aku menangis? Ah ternyata memang seorang laki-laki berkuasa atas perempuan hanya karena mereka mempunyai banyak akal dan perempuan hanya bisa memakai perasaannya, bagiku ini tak berbicara tentang kemenangan tetapi lebih tepat disebut kelemahan lelaki yang bersembunyi di balik kelebihan akalnya untuk membawahi perempuan, tetapi sekarang bahkan akalku tak berfungsi.  Ah biarkan aku menangis, hanya engkau perempuan yang sanggup membuatku keluh tak bisa berucap, Engkau yang mampu membuat semuanya terbalik.
***
Mencintaimu lebih indah jika harus menunggumu, apakah akhirnya aku menunggumu atau menunggu kematianku? Sudah mulai memutih, sudah mulai beranjak pergi semua yang berada di taman Istana Berlian, engkau adalah kunci untuk membuka gerbang taman ini. Dimana engkau?
Pembicaraan dengan diriku...
“Buat apa kau menunggu sesuatu yang tidak pasti?”, tanya diriku yang lain.
“Ah bukankah memang semua manusia di bumi ini menunggu sesuatu yang tidak pasti? Dan sesuatu yang pasti itu adalah ketidakpastian, ketidakpastian datangnya kematian, ketidakpastian datangnya bencana, begitu juga ketidakpastian dalam penantian ini!” kataku menjawab dengan senyum tipis.
“Kau terlalu berfilsafat teman, hidup memang tidak pasti tetapi bagaimana jika yang kau tunggu ini sudah pasti? Bukankah dia bilang hanya sebentar? Mengapa lama? Apa yang kamu ragukan lagi?” tanyanya bertubi-tubi.
Akhirnya pembicaraan itu terputus seketika, jiwaku terasa melayang diatas awang-awang. Aku hanya menunggu dia mengucap “Tidak usah kau menungguku lagi, Mas!”, seketika aku ambruk dan diriku yang lain berada di depan diriku yang ambruk.
Gerbang taman itu terbuka perlahan, kulihat dirimu sedang duduk di dalam bangku yang tersusun rapi di dalam pintu gerbang Istana Berlian yang telah terbuka. Tak kupedulikan diriku yang lain yang berada di hadapanku, kulangkahkan kakiku yang terasa ringan dan kuayunkan sejalan ke arahmu.
Kutepuk bahumu lalu berkata “Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyaku terheran-heran
Kau menoleh dan terlihat senyum menghias bibirmu lalu berkata “Aku menunggumu, Mas”.

  “Kutitipkan salam untuk senja
  Yang menghias indah gerbang Istana”....

TAMAT

2 Desember 2010
Wahyu Septian H.
 

0 komentar: