Percintaan Senja

Langit  itu memerah  menggantikan warna biru yang cerah
Matahari hanya tetap terdiam 12 dibawah cakrawala
Mataku tak mampu membedakan semua dibawah langit yang semakin memesona
Aku pun tak tahu bahwa rumput yang hijau di bawah kaki langit menemaniku bercinta
Tubuhku berpeluh, menggigil, sekejap terdiam
Seperti serambi jantungku yang menari indah memompa darah
Aku tak mau melenguh, sedang nafasku kian memburu
Tuhan...
Bukan indah yang kuminta seperti awan yang berkelambu, memerah, membuncah...
Hanya senja...
Sidoarjo, 09 Desember 2010
Wahyu Septian H.

Sastra Jendra

Ajaran Ilmu Sastra Jendra itu adalah, barang siapa yang menyadari dan menaati benar makna yang terkandung di dalam ajaran itu akan dapat mengenal watak (nafsu-nafsu) diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Dalam pada itu yang bersifat buruk jahat dilenyapkan dan yang bersifat baik diperkembangkan sejauh mungkin. Kesemuanya di bawah pimpinan kebijaksanaan yang bersifat luhur.
Karena Sastrajendra adalah rahasia alam semesta, yang tidak dibolehkan diketahui sebarang makhluk, seisi dunia baik daratan, angkasa dan lautan. Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah ilmu sebagai kunci orang dapat memahami isi indraloka pusat tubuh manusia yang berada di dalam rongga dada yaitu pintu gerbang atau kunci rasa jati, yang dalam hal ini bernilai sama dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang bersifat gaib. Maka dari itu ilmu Sastra Jendera Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebagai sarana pemunah segala bahaya, yang di dalam hal ilmu sudah tiada lagi. Sebab segalanya sudah tercakup dalam sastra utama, puncak dari segala macam ilmu. Raksasa serta segala hewan seisi hutan, jika tahu artinya sastra jendra. Dewa akan membebaskan dari segala petaka. Sempurna kematiannya, rohnya akan berkumpul dengan roh manusia, manusia yang telah sempurna yang menguasal sastra jendra, apabila ia mati, rohnya akan berkumpul dengan para dewa yang mulya.
Sastra Jendra disebut pula Sastra Ceta. Suatu hal yang mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia biasa. Karena itu Ilmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam beserta perkembangannya. Jadi tugasnya, Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup.
Untuk mencapai tingkat hidup yang demikian itu, manusia harus menempuh berbagai persyaratan atau jalan dalam hal ini berarti sukma dan roh yang manunggal, antara lain dengan cara-cara seperti:
Mutih : makan nasi tanpa lauk pauk yang berupa apapun juga.
Sirik : menjauhkan diri dari segala macam keduniawian.
Ngebleng : menghindari segala makanan atau minuman yang tak bergaram.
Patigeni : tidak makan atau minum apa-apa sama sekali.
Selanjutnya melakukan samadi, sambil mengurangi makan, minum, tidur dan lain sebagainya. Pada samadi itulah pada galibnya orang akan mendapalkan ilham atau wisik:
1.Tapaning jasad, yang berarti mengendalikan/menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya. Janganlah hendaknya merasa sakit hati atau menaruh balas dendam, apalagi terkena sebagai sasaran karena perbuatan orang lain, atau akibat suatu peristiwa yang menyangkut pada dirinya. Sedapat-dapatnya hal tersebut diterima saja dengan kesungguhan hati.
2.Tapaning budi, yang berarti mengelakkan/mengingkari perbuatan yang terhina dan segala hal yang bersifat tidak jujur.
3.Tapaning hawa nafsu, yang berarti mengendalikan/melontarkan jauh-jauh hawa nafsu atau sifat angkara murka dari diri pribadi. Hendaknya selalu bersikap sabar dan suci, murah hati, berperasaan dalam, suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta kewaspadaan (hening).
4.Tapaning sukma, yang berarti memenangkan jiwanya. Hendaknya kedermawanannya diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan sedemikian, sehingga tidak mengakibatkan sesuatu kerugian yang berupa apapun juga pada pihak yang manapun juga. Pendek kata tanpa menyinggung perasaan.
5.Tapaning cahya, yang berarti hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar dan saru. Lagi pula kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada kebahagiaan dan keselamatan umum.
6.Tapaning gesang, yang berarti berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, kearah kesempurnaari hidup, serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengingat jalan atau cara itu berkedudukan pada
tingkat hidup tertinggi, maka ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu dinamakan pula "Benih seluruh semesta alam."
Jadi semakin jelas bahwa Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu hanya sebagai kunci untuk dapat memahami isi Rasa Jati, dimana untuk mencapai sesuatu yang luhur diperlukan mutlak perbuatan yang sesuai. Rasajati memperlambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat, kearah yang baik maupun yang buruk atau jahat. Nafsu sifat itu ialah; Lumamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi). Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya sesuatu masyarakat dalam berbagai bidang, antara lain: kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain sebagainya. Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu menghalang-halangi tindakan yang tidak senonoh.



Serat Kalatidha

Sinom

1. Mangkya darajating praja, Kawuryan wus sunyaturi, Rurah pangrehing ukara, Karana tanpa palupi, Atilar silastuti, Sujana sarjana kelu, Kalulun kala tida, Tidhem tandhaning dumadi, Ardayengrat dene karoban rubeda

Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot. Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi. Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama. Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh keragu-raguan). Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.

2. Ratune ratu utama, Patihe patih linuwih, Pra nayaka tyas raharja, Panekare becik-becik, Paranedene tan dadi, Paliyasing Kala Bendu, Mandar mangkin andadra, Rubeda angrebedi, Beda-beda ardaning wong saknegara

Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. Oleh karena daya jaman Kala Bendu. Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya.

3.Katetangi tangisira, Sira sang paramengkawi, Kawileting tyas duhkita, atamen ing ren wirangi, Dening upaya sandi, Sumaruna angrawung, Mangimur manuhara, Met pamrih melik pakolih, Temah suka ing karsa tanpa wiweka

Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan, mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang. Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.

4.Dasar karoban pawarta, Bebaratun ujar lamis, Pinudya dadya pangarsa, Wekasan malah kawuri, Yan pinikir sayekti, Mundhak apa aneng ngayun, Andhedher kaluputan, Siniraman banyu lali, Lamun tuwuh dadi kekembanging beka

Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu. Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar, bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali. Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ? Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja. Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan.

5. Ujaring panitisastra, Awewarah asung peling, Ing jaman keneng musibat, Wong ambeg jatmika kontit, Mengkono yen niteni, Pedah apa amituhu, Pawarta lolawara, Mundhuk angreranta ati, Angurbaya angiket cariteng kuna

Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan. Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi tidak terpakai. Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya kisah jaman dahulu kala.

6. Keni kinarta darsana, Panglimbang ala lan becik, Sayekti akeh kewala, Lelakon kang dadi tamsil, Masalahing ngaurip, Wahaninira tinemu, Temahan anarima, Mupus pepesthening takdir Puluh-Puluh anglakoni kaelokan

Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala, guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul. Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama, mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya "nrima" dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan. Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.

7. Amenangi jaman edan, Ewuh aya ing pambudi, Milu edan nora tahan, Yen tan milu anglakoni, Boya kaduman melik, Kaliren wekasanipun, Ndilalah karsa Allah, Begja-begjane kang lali, Luwih begja kang eling lawan waspada

Hidup didalam jaman edan, memang repot. Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.

8. Semono iku bebasan, Padu-padune kepengin, Enggih mekoten man Doblang, Bener ingkang angarani Nanging sajroning batin, Sejatine nyamut-nyamut, Wis tuwa arep apa, Muhung mahas ing asepi, Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma

Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ? Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian. Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua, apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan.

9.Beda lan kang wus santosa, Kinarilah ing Hyang Widhi, Satiba malanganeya, Tan susah ngupaya kasil Saking mangunah prapti, Pangeran paring pitulung, Marga samaning titah, Rupa sabarang pakolih, Parandene maksih taberi ikhtiyar

Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan. Bagaimanapun nasibnya selalu baik. Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah. Namun demikian masih juga berikhtiar.

10. Sakadare linakonan, Mung tumindak mara ati, Angger tan dadi prakara, Karana riwayat muni, Ikhtiyar iku yekti, Pamilihing reh rahayu, Sinambi budidaya, Kanthi awas lawan eling, Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan persoalan. Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib ikhtiar, hanya harus memilih jalan yang baik. Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.

11. Ya Allah ya Rasulullah, Kang sipat murah lan asih, Mugi-mugi aparinga, Pitulung ingkang martani Ing alam awal akhir, Dumununging gesang ulun, Mangkya sampun awredha, Ing wekasan kadi pundi Mula mugi wontena pitulung Tuwan Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih, mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang akhir ini. Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana. Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.

12. Sageda sabar santosa, Mati sajroning ngaurip, Kalis ing reh aruraha, Murka angkara sumingkir, Tarlen meleng malat sih, Sanityaseng tyas mematuh, Badharing sapudhendha, Antuk mayar sawetawis, BoRONG angGA saWARga meSI marTAya

Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa, seolah-olah dapat mati didalam hidup. Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan. Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan sekedarnya. Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami

Ibu!


Kau tahu semerbak bunga kasturi yang berpendar ditiup hembusan angin surga,
Membawa harum dan menggantung raga dalam asa setiap insan manusia,
Tiupan nafasmu yang selalu kau tiupkan ke dalam paru-paru, membawa udara segar yang terlampau indah untuk ku tuangkan dalam kata-kata, karena dalam tiupan nafasmu kau telah memberikan kekuatan untuk tetap tegak berdiri di dalam lingkar alam fana ini.

Engkau telah menjadi  “Malaikat Putih Berkalungkan Mahabbah dan Suka serta Senyuman indah”
Aku telah menempatkan engkau dalam kedudukan yang hampir sama dalam tataran Mahkluk Yang Mulia, dengan lembut kau sapih aku, dengan sisa-sisa tenagamu kau tuntun aku berjalan melalui gelapnya malam dan dengan senyummu kau selalu berkata bahwa hidup adalah anugerah , dan sejak saat itu aku mencoba merenung dan menelungkupkan wajahku ke dalam lipatan pahaku, karena aku tidak pernah melakukan apapun untuk membalas semua kebaikanmu yang terlampau besar dan luas tak terhingga

Surga ada di telapak kakimu,biarkan aku membasuh dengan tanganku yang sebetulnya tak pantas untuk menyentuh kaki-kaki yang diibaratkan sebagai kaki surga...
Tapi biarkan aku berbakti kepadamu selayaknya dan semampunya karena Engkau yang telah menjadi perantaraku untuk bisa menikmati indahnya hidup dan merasakan setiap anugerah yang telah diciptakan oleh-Nya kepada setiap hamba-Nya..

Ohh ibu....
Engkau adalah mahkluk Mulia dan Terindah yang selalu mengiringi setiap hembusan dan detak jantung yang berjalan pelan seiring detik jarum jam yang berdentang.....


“Ibu......kenapa kau telah meninggalkan aku dalam sekejap mata!!
Tak kau lihat betapa rapuhnya segumpal daging dan darah yang tercipta dari rahimmu ini menghadapi
Hidup yang bagaikan terombang – ambing ditiup angin dari berbagai penjuru.....
Tanpamu tak ada yang lebih berarti, tanpamu tak ada yang lebih mengerti,  dan tanpamu tak ada yang  menghargai, aku disini sendiri.......siapkah aku dengan setiap bungkus polos kulit putihku yang tak tahu apa –apa tentang betapa kerasnya tangan dunia yang berusaha mencari korban selanjutnya....”

Malam ini adalah malam sunyi yang terlalu senyap untuk kulewati sendiri,di bawah kolong langit, insan manusia bisa menengadahkan wajahnya untuk melihat indahnya titik-titik cahaya terang sebagai cahaya jalan yang menerangi setiap dan apapun jalan yang gelap, kau tahu bahwa kita baru merasa kehilangan seseorang jika orang itu telah meninggalkan kita sendiri dengan segala tampuk beban yang teramat sangat berat untuk dipikul oleh setiap orang yang baru merasa kehilangan........

“Ibu........aku teringat ketika di waktu setiap malam ketika kelopak mata ini telah sayu dan berat untuk menahan beban melihat indahnya dunia,kau mulai bercerita dan berdongeng tentang apapun, kuingat engkau berdongeng tentang kancil , abunawas , bahkan sampai pewayangan tentang sosok Bisma yang sebagai sosok yang wibawa dan pahlawan yang dihormati....yang gugur di tangan panah sang Arjuna....
Kau menginginkan aku seperti tokoh-tokoh yang kau ceritakan dalam dongengmu......, tapi Tangan Takdir Tuhan telah menuliskan kenyataan lain,Engkau telah bersemayam dalam indahnya surga yang diimpi-impikan oleh setiap orang , engkau telah tenang dalam peristirahatanmu......”

“Ibu..........apakah aku akan jatuh terkulai berdebam dan dengan keras menghantam tanah yang kupijak karena engkau sebagai peganganku telah mendapatkan tempat yang layak disisi-Nya, karena disini aku hanya sendiri, ketika pagi aku hanya berteman dengan adzan yang bertugas membangunkan orang dengan lafal-lafal kata agung dan indah yang terlontar dari rumah ALLAH, dan ketika siang aku hanya bertutur kepada matahari dan bercerita serta mendengarkan kabar dari surga tentang Ibu yang telah tenang disana dari hembusan angin yang setiap hari selalu menyapaku dengan senyumnya,  juga ketika malam aku hanya bisa melihat wajahmu dari sosok rembulan yang mulai meninggi di atas atap para malaikat – malaikat yang sedang bersanding di kuatnya iman”

“Ibu......biarkan aku menyusulmu untuk menuntaskan baktiku padamu yang tak bisa ku selesaikan di dalam dunia yang carut-marut oleh tangan dan pikiran manusia ini, biarkan aku menjadi buah hati kesayanganmu yang selalu berada disisimu menjaga engkau dalam suka dan duka dan dalam tangis maupun tawa, tetapi semua itu tidak berani untuk kulakukan karena engkau muncul dengan sosok yang ingin menguatkan aku dengan setiap tutur kata dan sentuhan lembut indah jemarimu yang mampu mengokohkan aku...

Engkau berkata”anakku jangan kau bersedih, semua ini adalah garisan takdir yang bisa saja terjadi kepada setiap makhluk-Nya,teruskanlah perjuanganmu, simpanlah sisa – sisa nafasmu dan air matamu,  jangan kau jatuhkan air mata itu ke bumi yang suci karena bumi tidak mau menerima air mata buah hati yang terlalu lemah dalam menjalani kehidupan,perlihatkan pada setiap mata, pertunjukkan pada setiap makhluk ciptaanya bahwa engkau mampu bertahan dengan kesemuanya.......

Anakku hidup adalah sebuah anugerah, tidak ada bencana dalam kehidupan, hidup adalah sebuah makna tersendiri bagi yang bisa menikmati dan mempergunakan setiap jengkal langkah kakinya dan hembusan nafasnya untuk melakukan sesuatu hal yang berguna.............Jangan mengeluh, manusia adalah makhluk yang sangat sempurna, kau tidak kekurangan satu apapun, Ibu tidak akan hilang dari dalam hatimu, Ibu akan menjadi mata hati dan lentera dalam setiap perjalanan hidupmu karena hidup adalah menghargai arti kehidupan itu sendiri.......Ibu yakin kamu bisa....”
Itulah yang selalu menguatkan aku dalam setiap kerasnya hidup yang kujalani.....
Ibu lihatlah dari surga bahwa buah hatimu telah mampu untuk menghargai dan mengerti arti hidup ini....
Ibu kau dengar apa yang kusampaikan,jangan lelah kau untuk selalu membimbingku dan menunjukkan aku dalam setiap jalan yang kutempuh...dan kepada pemilik Alam Semesta jadikanlah Makhluk Yang Termulia itu menjadi makhluk yang yang selalu berada di tempat terbaik-MU.....Jagalah dia Engkau Sang pemilik Asmaul Husna, Payungi dia dengan Tanganmu yang sebagai peneduh Umat-MU,karena engkau adalah MAHA dari segala MAHA yang sanggup berbuat walau hanya dengan kata-kata.........

“Ibu..........lihatlah kolong langit ini telah menjadi rumahku, dan jalan panjang yang terhampar telah menjadi jalanku dan setiap hembusan nafasku telah menjadikan semuanya berjalan dan beriring dalam keinginanmu.....jagalah aku dari nirwana, dan aku selalu berdo’a kepada-NYA supaya engkau mendapat tempat selayaknya.......”

Ibu adalah Makhluk Mulia dan Terindah, jangan pernah kita gores putih hatinya, dan jangan pernah menyia – nyiakan anugerah Tuhan yang terlalu Mulia dan terlalu Indah untuk kita sia-siakan....IBU.......

Biarkan bintang menari mengiringi angin yang bernyanyi indah dan bulan yang bagaikan pemain dalam drama langit menghibur setiap jiwa-jiwa yang luluh dan keruh....
Biarkan sosok IBU yang selalu menjadi penuntun dalam menemukan setiap arti dan rasa yang belum pernah didapat oleh insan manusia yang tak merasa
Dan biarkan Sang Tangan Tuhan sebagai payung yang selalu menaungi dalam setiap bencana yang akan datang menggoyahkan iman.

Pertemuan


Malam itu bulan temaram diatas awan yang beriring pelan, berarak, kemudian awan merekah membentuk kuncup bunga, putih dan membiru! Aku hanya berdiam di ujung jalan di dekat taman Istana Berlian, menunggu dan tetap menunggu, tak peduli berapa lama aku menunggu, uban sudah mulai memutih, pakaianku sudah mulai lusuh, sorot mataku mulai kuyuh karena tidak mengedipkan kelopak mataku entah untuk berapa tahun lamanya, aku masih tetap menunggu.
Siluet cahaya dari bulan kutatap dengan penuh kasih, perlahan membawaku kembali menerawang penantianku yang telah lama kulalui. Entah? Hanya bisa menunggu...
***
“Mas, tunggu aku disini?”, ucapmu sambil memegang tanganku erat-erat, sejenak kemudian memelukku dengan hangat.
“Kau mau kemana?”, tanyaku dengan nada yang bergetar
“Aku hanya pergi sebentar mas aku janji! Engkau jangan pernah beranjak dari tempat ini mas!”
“Engkau pergi bukan untuk waktu yang lama kan?”, tanyaku sembari menarik diriku menjauhi peluk eratnya dan menatap matanya lekat-lekat. Mata ini yang sanggup membuatku jatuh luruh, sayu!!
“Tidak mas, aku janji akan kembali ketempat ini menemuimu.”
Perlahan-lahan tanganmu melepas genggaman tanganku, kau melihat mataku yang memerah menahan air mata, lalu kau berjalan dengan pasti pergi! Ya kau pergi! tidak berapa lama awan hitam yang menggantung mengeluarkan suaranya yang menggelegar, disertai dengan kilatan cahaya. Mungkinkah ini pertanda? langit yang tadinya dipenuhi bintang dan terang benderang mendadak menjadi hitam dengan pamitmu? Ketika aku kalut dengan pikiranku kau mulai menjauh dan bayangan yang mengikutimu mulai menghilang di sudut belokan gang yang berada di sisi utara taman Istana Berlian, sekejap dengan menghilangnya bayangmu air mulai menitik perlahan dan lambat namun pasti tetes itu berubah menjadi beribu-ribu tetes yang menempias wajahku yang terjaga ketika air menyentuh halus bibirku, dingin, sedingin rasa yang tercipta malam ini.
“Kau telah pergi sayang, memang kau telah pergi dan aku yakin kau takkan kembali”, bisikku lirih.
Apakah aku menangis? Ah ternyata memang seorang laki-laki berkuasa atas perempuan hanya karena mereka mempunyai banyak akal dan perempuan hanya bisa memakai perasaannya, bagiku ini tak berbicara tentang kemenangan tetapi lebih tepat disebut kelemahan lelaki yang bersembunyi di balik kelebihan akalnya untuk membawahi perempuan, tetapi sekarang bahkan akalku tak berfungsi.  Ah biarkan aku menangis, hanya engkau perempuan yang sanggup membuatku keluh tak bisa berucap, Engkau yang mampu membuat semuanya terbalik.
***
Mencintaimu lebih indah jika harus menunggumu, apakah akhirnya aku menunggumu atau menunggu kematianku? Sudah mulai memutih, sudah mulai beranjak pergi semua yang berada di taman Istana Berlian, engkau adalah kunci untuk membuka gerbang taman ini. Dimana engkau?
Pembicaraan dengan diriku...
“Buat apa kau menunggu sesuatu yang tidak pasti?”, tanya diriku yang lain.
“Ah bukankah memang semua manusia di bumi ini menunggu sesuatu yang tidak pasti? Dan sesuatu yang pasti itu adalah ketidakpastian, ketidakpastian datangnya kematian, ketidakpastian datangnya bencana, begitu juga ketidakpastian dalam penantian ini!” kataku menjawab dengan senyum tipis.
“Kau terlalu berfilsafat teman, hidup memang tidak pasti tetapi bagaimana jika yang kau tunggu ini sudah pasti? Bukankah dia bilang hanya sebentar? Mengapa lama? Apa yang kamu ragukan lagi?” tanyanya bertubi-tubi.
Akhirnya pembicaraan itu terputus seketika, jiwaku terasa melayang diatas awang-awang. Aku hanya menunggu dia mengucap “Tidak usah kau menungguku lagi, Mas!”, seketika aku ambruk dan diriku yang lain berada di depan diriku yang ambruk.
Gerbang taman itu terbuka perlahan, kulihat dirimu sedang duduk di dalam bangku yang tersusun rapi di dalam pintu gerbang Istana Berlian yang telah terbuka. Tak kupedulikan diriku yang lain yang berada di hadapanku, kulangkahkan kakiku yang terasa ringan dan kuayunkan sejalan ke arahmu.
Kutepuk bahumu lalu berkata “Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyaku terheran-heran
Kau menoleh dan terlihat senyum menghias bibirmu lalu berkata “Aku menunggumu, Mas”.

  “Kutitipkan salam untuk senja
  Yang menghias indah gerbang Istana”....

TAMAT

2 Desember 2010
Wahyu Septian H.